Dalam setiap aktivitas rintangan itu akan selalu ada. Hal ini
dikarenakan Tuhan menciptakan syetan tidak lain hanya untuk menggoda dan
menghalangi setiap aktivitas manusia. Tidak hanya terhadap aktivitas
yang mengarah kepada kebaikan, bahkan terhadap aktivitas yang sudah
jelas mengarah menuju kejahatan pun, syetan masih juga ingin lebih
menyesatkan.
Pada dasarnya kita diciptakan oleh Tuhan hanya untuk beribadah dan
mencari ridla dari-Nya. Karena itu kita harus berusaha untuk berjalan
sesuai dengan kehendak atau syari’at yang telah ditentukan. Hanya saja
keberadaan syetan yang selalu memusuhi kita, membuat pengertian dan
pelaksanaan kita terkadang tidak sesuai dengan kebenaran.
Dengan demikian, kebutuhan kita untuk mencari seorang pembimbing
merupakan hal yang essensial. Karena dengan bimbingan orang tersebut,
kita harapkan akan bisa menetralisir setiap perbuatan yang mengarah
kepada kesesatan sehingga bisa mengantar kita pada tujuan.
Thariqah
Thariqah adalah jalan. Maksudnya, salah satu jalan menuju ridla Allah
atau salah satu jalan menuju wushul (sampai pada Tuhan). Dalam istilah
lain orang sering juga menyebutnya dengan ilmu haqiqat. Jadi, thariqah
merupakan sebuah aliran ajaran dalam pendekatan terhadap Tuhan.
Rutinitas yang ditekankan dalam ajaran ini adalah memperbanyak dzikir
terhadap Allah.
Dalam thariqat, kebanyakan orang yang terjun ke sana adalah
orang-orang yang bisa dibilang sudah mencapai usia tua. Itu dikarenakan
tuntutan atau pelajaran yang disampaikan adalah pengetahuan pokok atau
inti yang berkaitan langsung dengan Tuhan dan aktifitas hati yang tidak
banyak membutuhkan pengembangan analisa. Hal ini sesuai dengan keadaan
seorang yang sudah berusia tua yang biasanya kurang ada respon dalam
pengembangan analisa. Meskipun demikian, tidak berarti thariqah hanya
boleh dijalankan oleh orang-orang tua saja.
Lewat thariqah ini orang berharap bisa selalu mendapat ridla dari
Allah, atau bahkan bisa sampai derajat wushul. Meskipun sebenarnya
thariqah bukanlah jalan satu-satunya.
Wushul
Wushul adalah derajat tertinggi atau tujuan utama dalam ber-thariqah.
Untuk mencapai derajat wushul (sampai pada Tuhan), orang bisa mencoba
lewat bermacam-macam jalan. Jadi, orang bisa sampai ke derajat tersebut
tidak hanya lewat satu jalan. Hanya saja kebanyakan orang menganggap
thariqah adalah satu-satunya jalan atau bahkan jalan pintas menuju
wushul.
Seperti halnya thariqah, ibadah lain juga bisa mengantar sampai ke
derajat wushul. Ada dua ibadah yang syetan sangat sungguh-sungguh dalam
usaha menggagalkan atau menggoda, yaitu shalat dan dzikir. Hal ini
dikarenakan shalat dan dzikir merupkan dua ibadah yang besar
kemungkinannya bisa diharapkan akan membawa keselamatan atau bahkan
mencapai derajat wushul. Sehingga didalam shalat dan dzikir orang akan
merasakan kesulitan untuk dapat selalu mengingat Tuhan.
Dalam sebuah cerita, Imam Hanafi didatangi seorang yang sedang
kehilangan barang. Oleh Imam Hanafi orang tersebut disuruh shalat
sepanjang malam sehingga akan menemukan barangnya. Namun ketika baru
setengah malam menjalankan shalat, syetan mengingatkan/mengembalikan
barangnya yang hilang sambil membisikkan agar tidak melanjutkan
shalatnya. Namun oleh Imam Hanafi orang tersebut tetap disuruh untuk
melanjutkan shalatnya.
Seperti halnya shalat, dzikir adalah salah satu ibadah yang untuk
mencapai hasil maksimal harus melewati jalur yang penuh godaan syetan.
Dzikir dalam ilmu haqiqat atau thariqat, adalah mengingat atau
menghadirkan Tuhan dalam hati. Sementara Tuhan adalah dzat yang tidak
bisa diindera dan juga tiak ada yang menyerupai. Sehingga tidak boleh
bagi kita untuk membayangkan keberadaan Tuhan dengan disamakan sesuatu.
Maka dalam hal ini besar kemungkinan kita terpengaruh dan tergoda oleh
syetan, mengingat kita adalah orang yang awam dalam bidang ini (ilmu
haqiqat) dan masih jauh dari standar.
Karena itu, untuk selalu bisa berjalan sesuai ajaran agama, menjaga
kebenaran maupun terhindar dari kesalahan pengertian, kita harus
mempunyai seorang guru. Karena tanpa seorang guru, syetanlah yang akan
membimbing kita. Yang paling dikhawatirkan adalah kesalahan yang
berdampak pada aqidah.
Mursyid
Mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu
thariqat. Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat
adalah tentang Tuhan yang merupakan dzat yang tidak bisa diindera, dan
rutinitas thariqah adalah dzikir yang sangat dibenci syetan. Maka untuk
menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang mursyid untuk
mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang
tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupun mental, baik
terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar.
Bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah.
Seorang mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkannya
pada bentuk pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari
masing-masing mursyid yang disampaikan pada kita berbeda-beda,
tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan
yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ila-Allah.
Melihat begitu pentingnya peranan mursyid, maka tidak diragukan lagi
tinggi derajat maupun kemampuan dan pengetahuan yang telah dicapai oleh
mursyid tersebut. Karena ketika seorang mursyid memberi jalan keluar
kepada muridnya dalam menghadapi kemungkinan godaan syetan, berarti
beliau telah lolos dari perangkap syetan. Dan ketika beliau membina
muridnya untuk mencapai derajat wushul, berarti beliau telah mencapai
derajat tersebut. Paling tidak, seorang mursyid adalah orang yang tidak
diragukan lagi kemampuan maupuan pengetahuannya.
PENGETAHUAN INTERNET
belajarlah engkau walau ke negeri yang jauh
5.27.2014
Wasilah, Cara Berjumpa Dengan Allah
Semua
manusia di dunia ini meyakini bahwa Tuhan adalah sosok yang Agung,
Mulia, Sempurna dan segala gelar hebat di sandang oleh-Nya. Kalau di
dunia ada Raja maka Tuhan adalah Maha Raja Diraja. Tuhan Yang Maha Agung
dan Maha Mulia tersebut, sebegitu tingginya sehingga hampir semua
manusia merasa mustahil untuk berjumpa denga-Nya. Hanya golongan
tertentu saja seperti Nabi yang diizinkan untuk menjumpai-Nya. Bahkan
dalam pandangan kelompok tertentu dalam Islam, bahkan Nabi sendiri tidak
pernah berjumpa dengan Allah di dunia, dalil tentang pengalaman Musa
ingin melihat Tuhan dijadikan dalil untuk membenarkan pendapat mereka.
Kelompok Mu’tazilah bahkan lebih ekstrim lagi, mereka berpendapat bahwa
Tuhan tidak bisa dilihat atau dijumpai baik di dunia maupun di akhirat.
Kelompok
yang paling banyak adalah yang berpendapat bahwa Allah tidak bisa
dilihat atau dijumpai didunia namun Dia bisa dijumpai di akhirat setelah
manusia meninggal dunia. Karena banyak bahkan sangat banyak, pada
umumnya kita juga meyakini atau dipaksa meyakini bahwa Tuhan tidak
mungkin dilihat di dunia dengan alasan Dia Maha Tinggi dan Maha
Segalanya.
Disisi
lain, kaum Sufi meyakini dan memang mengalami hal yang mustahil bagi
kaum awam, yaitu berjumpa, melihat dan berdialog dengan Allah
sebagaimana yang diceritakan para Tokoh Sufi dalam berbagai karyanya,
salah satu Imam al-Ghazali yang melihat dan berdialog dengan Tuhan di
dalam mimpi Beliau.
Pertanyaan
yang paling menggoda kita adalah, kenapa ketiga kelompok ini yang
sama-sama mengambil sumber ilmu dari Al-Qur’an dan Hadist bisa begitu
jauh berselisih paham dan ini telah terjadi dari zaman dulu sampai
sekarang. Jawaban normative karena pikiran manusia berbeda-beda dan
kemampuan untuk menyerap ilmu dari sumber yang Agung (Al-Qur’an juga
berbeda.
Bagi
kelompok yang tidak meyakini bahwa Allah bisa di lihat di akhirat,
dengan segala dalil menyerang kelompok yang meyakini bahwa Allah bisa
dilihat di akhirat. Kaum Mu’tazilah menganggap keliru pemahaman Ahlu
Sunnah Wal Jamaah yang meyakini Allah bisa dilihat di akhirat. Kemudian,
orang yang meyakini bahwa Allah hanya bisa dilihat di akhirat
menganggap keliru atau aneh bagi orang yang meyakini bahwa Allah bisa
dilihat di dunia dan akhirat. Kalau kita terus menerus terjebak kepaa
perdebatan tentang Tuhan, maka secara tidak sadar kita tidak pernah mau
berusaha untuk menemukan kebenaran lain selain yang kita yakini.
Tuhan
Maha Tinggi dan tidak seorangpun yang bisa menjangkat Zat Allah yang
Maha tinggi tersebut, dan dalam hal ini kaum sufi yang meyakini bahwa
Tuhan bisa dilihat juga berpendapat seperti ini. Tidak berarti bahwa
ketika kaum sufi berkesempatan memandang Allah, lalu kedudukan Allah
menjadi rendah. Semua manusia memposisikan Tuhan sesuai kadarnya
masing-masing makanya dengan segala keyakinannya menampatkan TUhan
ditempat yang tdak terjangkau agar kedudukan Tuhan tetap tinggi. Lalu,
kalau Tuhan sudah sangat tinggi tidak dapat dijangkau, untuk apa adanya
Tuhan?
Tuhan
tidak sekedar sesuatu yang disembah, tapi Dia adalah sosok yang akrab
dengan kita, tempat kita berkeluh kesah dan sahabat yang paling setia.
Nabi Ibrahim menjadi “Khalilullah” Sabahat Allah karena kedekatan Beliau
dengan Allah, lalu apakah hanya Ibrahim satu-satunya manusia yang layak
menjadi Sahabat Allah? Nabi Muhammad terkenal sebagai “Habibullah” lalu
apakah hanya Muhammad satu-satunya manusia yang layak menjadi kekasih
Allah? Nabi Musa dikenal dengan “Kalamullah” orang yang diajak berbicara
oleh Allah, apakah hanya Nabi Musa yang mengalami seperti itu.
Bagaimana dengan kita yang awam, orang-orang yang bukan Nabi, apakah
tidak boleh berhubungan dengan Allah dengan akrab?
Kaum
sufi yang akrab dengan Tuhan juga tidak merasa dirinya hebat, tidak
merasa dirinya suci dan mulia bahkan disetiap saat dengan kesadaran
penuh dia merasa sebagai hamba yang hina, dhoif, papa tidak bisa apa,
hanya karena kemuarahan hati TUhan saja yang membuat mereka bisa
melakukan banyak hal di dunia ini. Kaum Sufi tidak pernah meyakini bahwa
TUhan bisa menjadi manusi dan manusia karena kesuciannya bisa menjadi
Tuhan, bahwa manusia itu bisa mencapai kedudukan mulia TUhan adalah
pendapat diluarorang lain terhadap pemahaman Sufi. Kesalahan dalam
memahami Wahdatul Wujud inilah kemudian yang membuat kaum sufi mendapat
tuduhdan sebagai kelompok sesat dari orang-orang yang tidak memahaminya.
Kaum
Sufi, dari manapun dia berasal dalam berhubungan dengan Allah tetap
memakai meode yang diajarkan oleh Rassulullah yaitu lewat Wasilah.
Karena tidak mungkin manusia bisa berhubungan dengan Allah tanpa ada
unsur atau alat yang diberikan Allah. Dia yang Maha tinggi tidak mungkin
dijangkau oleh manusia yang penuh dengan dosa dan kekurangan. Dalam hal
ini seluruh manusia mempunyai kayakinan yang sama, termasuk Sufi. Allah
yang Maha Pemurah memberikan “Alat Komunikasi” antara manusia dengan
Dia yaitu berupa Nur Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Nur
tersebut setelah Nabi Muhammad wafat diberikan kepada para ulama pewaris
Nabi, dengan itulah manusia bisa berhubungan dengan TUhan. Sebagai alat
komunikasi, Wasilah bukanlah ciptaan manusia, bukan pula manusia, tapi
dia adalah sesuatu yang berasal dari sisi Allah. Inilah yang disebut
dalam Al-Qur’an sebagai Tali Allah, yang pangkalnya ada pada Allah dan
ujungnya ada pada kekasih-Nya. Jangankan Allah yang merupakan Cahaya
Maha Tinggi, berhubungan dengan cahaya yang nampak saja harus ada
alatnya. Gelombang radio atau televisi ciptaan manusia tidak bisa
diterima tanpa adanya alat penerimanya apalagi Cahaya Allah yang begitu
Tinggi.
Nabi
bukanlah sekedar penyampai wahyu, tapi Beliau adalah pembawa Wasilah
yang berasal dari sisi Allah sebagai media penyambug manusia dengan
Allah. Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan langsung, tanpa
perantara. Hubungan langsung yang dimaksud tentu saja hubungan dengan
menggunakan metode yag tepat, metode yang telah disampaikan dan
digunakan oleh Rasulullah SAW. Umumnya hubungan langsung yang diyakini
oleh manusia secara umum, dia merasa yakin aja bahwa Tuhan yang disembah
itu benar. Mulai dari dia bisa beribadah, dia meyakini yang disembah
dalah Allah. Apkah memang demikian? Dari mana dia bisa tahu kalau yang
berdiri didepannya itu sosok Iblis yang juga terdiri dari cahaya.
Berpuluh-puluh tahun dia meyakini telah menyembah Allah lewat Shalat dan
ibadah lainnya, ternyata yang disembah Iblis karena dia tidak bisa
membedakan antara Allah dan Iblis. Ibadahnya berupa shalat itu diberi
ganjaran Neraka oleh Allah karena yang disembah bukan Allah.
Apakah
Iblis tidak bisa masuk kedalam Mesjid? Jangankan dalam mesjid atau
rumah kita, kedalam surga pun dia bisa bolak balik, bebas keluar masuk.
Jadi, kesmbongan kita menolak wasilah, menyembah Allah dengan metode
Rasulullah ini yang menyembabkan kita mudah disusupi setan yang sangat
Halus. Ingat, Nabi Adam digoda oleh Iblis bukan di Pasar Malam atau di
Mall, tapi di dalam Surga yang dipagari oleh para Malaikat.
Kaum
Sufi tidak ragu sedikitpun dia dalam beribadah karena dia sudah bisa
membedakan antara Allah dan yang bukan Allah karena dia telah berjumpa
dengan Allah. Bagi mereka Allah bukan hanya Maha Gaib (Al-Ghaibi) namun
juga Maha Nyata (AD-Dzahir) seperti yang tertulis dalam Asmaul Husna.
Bagi orang yang baru menempuh jalan kepada Allah (Thariqatullah), paling
tidak dia telah mempunyai pembimbing (Mursyid) yang setiap saat akan
menuntun dan membimbing dia kepada Allah secara zahir dan bathin. Godaan
dan gangguan secara bathin dengan izin Allah akan mendapat Syafaat (
Bantuan) dari Guru Mursyid yang rohaninya selalu bersama rohani
Rasulullah dan otomatis selalu bersama Allah.
Jadi,
belum terlambat bagi siapapun kita yang belum menggunakan metode
berhubungan dengan Allah berupa Wasilah untuk segera mencari Guru
Pembimbing agar ibadahnya menjadi sempurna dan diterima oleh Allah SWT.
Rotib Al Haddad
| Rotib Al Haddad & Wirdul Lathief |
Buku saku praktis berisi bacaan wirid Rotib Al Haddad & Wirdul Lathief, teks arab - latin dan terjemah.
Sekilas Tentang Shohibur Rotib
Beliau bernama
Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ali Al-Tarimi Al-Haddad Al-Husaini
Al-Yamani. Beliau (rahimahullah) dilahirkan di Subir sebuah perkampungan
kota Tarim di Wadi Hadhramaut, selatan negeri Yaman pada hari Ahad tanggal 5
bulan Safar tahun 1044 hijriah bersamaan tanggal 30 bulan Juli tahun 1634
Masehi. Al-Habib telah diasuh dan ditarbiahkan di Kota Tarim.
Ketika beliau meningkat umur empat tahun, Al-Habib dijangkiti penyakit cacar
yang mengakibatkan kehilangan daya penglihatan. Walaupun demikian, Allah
yang Maha Agung lagi Mulia telah menggantikan kepada Al-Habib dengan mata hati
(cahaya ilmu dan pengetahuan serta keyakinan dan wilayah). Cinta beliau
terhadap ilmu dan para ulama’ menghasilkan kebolehan menguasai ajaran para ahli
tahkik (orang yang mengenali Allah dengan ‘ainul-yakin serta hakkul-yakin
Al-Habib pernah
berkata “ketika aku masih kecil, aku telah berusaha bersungguh-sungguh untuk
beribadat dan melaksanakan pelbagai mujahadah yang lainnya, sehingga ditegur
oleh nindaku yang solehah bernama Salma binti Said Al-Wali Omar Ba’Alawi,
supaya menjaga diriku. Dia sering berkata demikian jika dikira ibadat
serta mujahadah yang aku usahakan dianggap terlalu kuat dan banyak.
Sebaliknya aku telah banyak meninggalkan mujahadah semenjak permulaan
perjalanan ini semata-mata memelihara hati kedua ibu bapakku yang amat prihatin
terhadap keadaanku”.
Pada permulaan
perjalanan hidup Al-Habib, beliau sentiasa menyusuri negerinya untuk bertemu
para solihin, menziarahi pusara para ulama’ dan auliya’. Pada masa beliau
berada di perkampungannya, beliau sering duduk di sudut ‘Masjid Al-Hijriah’ dan
pada waktu malamnya sering bersolat bergiliran di setiap masjid dalam kota Tarim.
Sesungguhnya inilah yang membuka hati beliau semenjak kecil lagi.
Al-Habib sering membaca Surah Yaasin yang mempengaruhi jiwanya dan menyebabkan
beliau menitiskan air mata yang begitu banyak. Keadaan demikian sering
mengakibatkan ketidakmampuannya membaca surah yang mulia ini. Inilah yang
mendorong Sayid Abdullah Bilfagih menjelaskan tentang Al-Habib dengan katanya
“Disinilah futuh (pembukaan) bagi Al-Habib”.
Al-Imam
amat memeliharai amalan solat Ar-Rawaatib. Doa-doa serta wirid-wiridnya yang
ma’tsur dari amalan Rasul S.A.W. termasuk mendirikan solat Ad-Dhuha sebanyak
delapan rakaat dan solat Al-Isyraq sebanyak empat rakaat sebelumnya, solat
Al-Awwaabin sebanyak dua puluh rakaat selepas sunat maghrib; dimana Al-Imam
menyempurnakan empat rakaat sebelum setiap salam. Di waktu subuh pada hari
Jumaat, Al-Imam berjamaah solat Fajar di masjid Al-Jami’ seterusnya ber i’tiqaf
sampai sholat Jumat demi mendapat keutamaan berawal-awalan untuk sholat
tersebut.
Walau
bagaimanapun Al-Imam tidak pernah menunjuk-nunjukkan amalnya kecuali
keadaan memaksakan seperti supaya ia dijadikan tauladan kepada yang lain. Kata
Al-Imam: “Tidak aku tonjolkan amalan ini dengan sengaja, walaupun itu
Alhamdulillah aku tidak bimbang dari sifat riya’ (disebabkan orang mengetahui
amalan aku).
Al-Imam juga telah
menegaskan:
“Sesungguhnya aku telah melaksanakan kesemua sunnah Nabi dan tidak ada
sunnah yang
ditinggalkan, kecuali rambut”. Akhirnya Al-Imam membiarkan rambut hingga ke
telinganya sebagai yang
dilaksanakan oleh Rasul S.A.W
Semoga Allah merahmati Al-Imam dan menempatkan beliau di Surga, dan
dikumpulkan kita bersamanya dengan berkat Saiyidina Muhammad S.A.W.,
keluarganya dan sahabatnya serta sholawat keatas Nabi Muhammad yang mulia serta
keluarga dan sahabatnya.
******
Ratib Al-Haddad
Ratib Al-Haddad ini
mengambil nama sesuai nama penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alawi
Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa
dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan
masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun
berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah
(bersamaan 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun untuk
memenuhi permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d
yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir tersebut ialah untuk mengadakan suatu wirid
dan zikir yang akan diamalkan penduduk
kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran
sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.
Pertama kalinya Ratib ini
dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah
daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di
Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan
tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan
nafalnya, setelah sholat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat
Isya’ untuk menghindari kesempitan waktu karena menunaikan solat Tarawih.
Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini
diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan
daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad
berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan
Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa
di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah
menyatakan bahwa barang siapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh
keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga
seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia akan
dikaruniai dengan pengalaman yang di luar dugaannya.
Beberapa perbedaan
didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah
yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad
Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan
menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas
juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan siapa yang membaca ratib
ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Amin.
Ketahuilah bahwa setiap
ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik
daripada Al-Quran dan hadist Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di
dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat
sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah
berdasarkan saran Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang
pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir
yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada
zikir panjang yang dibuat secara berkala atau sekali saja. Ratib ini
berbeda daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib
Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah.
Rotib ini
memiliki keistimewaan yang amat luar biasa. Bahkan Al Habib Abdullah Al Haddad
sendiri seringkali mewasiatkan agar rotib ini selalu dibaca.
Berkata
Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad Ra :
رَاتِبُنَا كَالسُّوْرِ الْحَدِيْدِي عَلَى
كَافَّةِ الْبَلَدِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيْهَا.
“Rotib kami ini seperti pagar besi bagi seluruh negeri yang dia
dibaca didalamnya”
Dalam
kesempatan lain beliau berkata :
رَاتِبُنَا هذَا يَحْرُسُ
الْبَلْدَةَ الَّتِي يُقْرَأُ فِيْهَا
“Rotib kami ini menjaga negeri yang dia dibaca didalamnya”
Dan
beliau pernah berkata juga :
مَنْ وَاظَبَ عَلَيْهِ رُزِقَ
حُسْنَ الْخَاتِمَة
“Barang
siapa senantiasa istiqomah membaca rotib Al Haddad maka akan dianugerahi mati
dalam khusnul khotimah”
Jaminan yang amat luar
biasa telah dinyatakan oleh penyusun rotib sendiri, yang kemudian diikuti oleh
pujian para ulama’ dan sholihin. Serta berbagai fakta yang menunjukkan bahwa
pengamal dari rotib ini akan mendapat keselamatan dan keamanan dari pencurian, tenggelam,
sihir, dan gangguan jin serta bencana lainnya. Dan terlebih lagi adalah
mendapat kesempurnaan nikmat Allah Ta’ala yaitu meninggal dalam khusnul
khotimah.
Berkata
As Sayyid Al ‘Allamah Qodhi Segaf bin Muhammad bin Toha As Segaf Ba ‘Alawi Ra :
إِنَّ مَنْ قَرَأَ رَاتِبَ سَيِّدِنَا الْحَدَّاد كُلَّ لَيْلَةٍ كَفَاهُ عَنْ أَوْرَادِ اللَّيْلِ ِلأَنَّهُ جَامِعٌ نَافِعٌ مُجَرَّبٌ
“Sesungguhnya barang siapa membaca rotib Al Habib Abdullah Al
Haddad setiap malam, maka mencukupinya dari wirid-wirid malam karena rotib
tersebut adalah sempurna memgumpulkan, bermanfaat, dan terbukti mujarrob”.
Berkata
As Sayyid Al ‘Allamah Mufti Zaid bin Sulaiman bin Yahya Al Ahdaly :
إِنِّيْ لَمْ يَحْصُلْ لِيْ
ذَوْقٌ فِيْ رَاتِبٍ غَيْرَ رَاتِبِ سَيِّدِنَا القُطْبِ عَبْدِ الله بِنْ عَلَوِي
الْحَدَّاد
“Sesungguhnya saya tidak mendapati perasaan nikmat dalam membaca
rotib melainkan rotib sayyidina qutub Abdullah bin Alawi Al Haddad”
Beliau Assyaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Hasan Al Muuqiry sangat perhatian
dengan rotib yang mulia ini. Dan beliau tidak mengijazahi orang yang minta
ijazah dari beliau kecuali dengan rotib Al Haddad terutama penduduk pegubungan
Yaman. Sehingga berpegang teguh dengan rotib tersebut baik orang-orang khusus
maupun awam.
Wirdul-Latif
Wirdul-Latif
adalah satu dari susunan wirid dan zikir oleh Al-Imam Al-Habib
Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Selalunya ia dibaca berseorangan pada waktu pagi
dan petang. Seperti karangannya yang lain, Imam Haddad menguatkan wirid ini
dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadist.
Dengan cara tulisannya yang mudah difahami, pendek dan
tepat, beliau menyusun ayat-ayat Al-Quran dan Hadith untuk
berzikir kebesaran dan kelebihan Allah. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid
ringan) sebab mudah dibaca dan senang dirasakan di hati kita. Juga sebab ia
tidak begitu panjang seperti wirid yang besarnya, iaitu Wirdul-Kabir.
Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah
seperti yang dianjurkan oleh pengikut-pengikut, murid-murid dan muslimin di
negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya
di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim - Hadhramaut di negara Yaman.
Imam Alawi bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad, anak cucu
beliau telah menyusunkan wirid ini dengan mengurangkan jumlah bacaan tasbih dan
tahmid. Perulangan tasbih dan tahmid dikurangkan kepada tiga dan ditambah satu ayat untuk gantinya. Beliau
mengikut arahan Allah seperti di Surah Al-Baqarah Ayat 286 :
“Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang
terdaya olehnya.”
Diriwayatkan daripada Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w
telah masuk ke masjid dan baginda mendapati ada seutas tali yang direntangkan
di antara dua tiang, lalu baginda bertanya: “Tali apakah ini?” Para Sahabat
menjawab, “Tali itu digunakan oleh Zainab untuk sembahyang, apabila dia merasa
malas atau keletihan dia akan berpegang pada tali tersebut.” Rasulullah s.a.w
bersabda lagi, “Lepaskan ikatan tali tersebut, seseorang dari kamu hendaklah
bersembahyang dengan kemampuan yang ada pada dirinya, apabila dia malas atau
letih maka hendaklah dia berhenti.” Zainab adalah seorang yang kukuh imannya.
Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Zainab r.a. jikalau ia mau belajar
satu zikir yang berpahala serupa dengan membaca bilangan zikir-zikir ini. Dan
Baginda pun berkata, “tambahkan kalimah ‘seberapa banyak ciptaan Nya’ kepada
setiap tasbih, taslim and tahmid”.
Sudah tentulah lebih baik kalau kita memiliki waktu dan
tenaga untuk membaca wirid ini dengan sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan
memberi kita taufiq dan hidayat dan merahmati Al-Habib kita serta memimpin kita
ke jalan yang benar.
Subscribe to:
Posts (Atom)