"Hati dan jasad adalah seperti seorang tuna netra ( orang buta ) dan seorang lumpuh memasuki sebuah kebun. Si lumpuh berkata kepada sang tuna netra, "Aku bisa melihat buah-buahan yang ada di kebun ini tetapi tidak dapat memetiknya, karena aku lumpuh. Kau tidak dapat melihatnya, tetapi kau tidak lumpuh. Gendonglah aku." Sang tuna netra menggendong si lumpuh, dan memetik buah-buahan tersebut, kemudian mereka memakannya.
Ruh dan jasad bekerja sama untuk berbuat maksiat kepada Allah swt, maka keduanya layak mendapat siksa."
( Sayyidina Salman Al-Farisi )
“Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemuliaan dan orang yang suka dendam, akan mati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah swt yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.” ( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )
“Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.”
( Imam Syafi’i )
"Doa' kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati, dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh Hal :
1. Kalian
mengenal Allah swt, tetapi tidak memenuhi hak-haknya.
2. Kalian
mengaku cinta kepada Rasulullah saw, tetapi tidak mengikuti sunah-sunahnya.
3. Kalian
membaca Al-Qur'an , tetapi tidak mengamalkan isinya.
4. Kalian
menikmati berbagai karunia Allah swt, tetapi tidak bersyukur kepadanya.
5. Kalian
nyatakan setan sebagai musuh, tetapi tidak menentangnya.
6. Kalian
nyatakan surga itu benar-benar ada, tetapi tidak beramal untuk memperolehnya.
7. Kalian
nyatakan neraka itu ada, tetapi tidak berusaha untuk menghindarinya.
8. Kalian
nyatakan kematian itu pasti datang, tetapi tidak bersiap-siap untuk
menyambutnya.
9. Sejak
bangun tidur kalian sibuk meneliti dan memperbincangkan aib ( keburukan ) orang
lain dan melupakan aib ( keburukan ) kalian sendiri.
10. Kalian
kuburkan mereka yang meninggal di antara kalian, tetapi tidak pernah memetik
pelajaran darinya.
( Syekh Ibrahim bin
Adham )
“Sedikit amal dari hati menyamai amal seluruh manusia dan jin.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )
“Hendaknya kalian senantiasa menghadirkan hati kalian kepada Allah SWT dan hendaknya kalian bertawakal kepadanya sepenuh hati, sebab Allah SWT mengetahui di manapun kalian berada.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )
"Orang yang menggunakan masa
sehatnya untuk bermaksiat kepada Allah swt adalah seperti seorang anak yang
mendapat warisan dari ayahnya sebesar seribu dinar, kemudian ia gunakan semua
uang itu untuk membeli ular dan kalajengking yang sangat berbisa yang kemudian
mengelilingi dan menggigitnya. Bukankah ular dan kalajengking tersebut akan
membunuhnya?
Kamu gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada Allah swt, maka nilaimu adalah seperti burung pemakan bangkai yang terbang berkeliling mencari bangkai, dimana pun ia dapatkan, maka ia segera mendarat.
Jadilah seperti tawon, kecil tetapi memiliki cita-cita yang mulia. Ia hisap wewangian dan ia produksi madu yang enak.
Kamu gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada Allah swt, maka nilaimu adalah seperti burung pemakan bangkai yang terbang berkeliling mencari bangkai, dimana pun ia dapatkan, maka ia segera mendarat.
Jadilah seperti tawon, kecil tetapi memiliki cita-cita yang mulia. Ia hisap wewangian dan ia produksi madu yang enak.
Engkau sudah terlalu lama
bergelimang kemaksiatan, kini terjunlah ke dalam hal-hal yang dicintai Allah
'Azza wa Jalla.
Telah kujelaskan hakikat
permasahan ini kepadamu, tetapi orang yang lalai tidak akan sadar meskipun
memperoleh berbagai rencana. Sebab wanita yang kurang waras akalnya ketika
putranya mati, ia justru tertawa. Begitu pula dirimu, engkau tinggalkan shalat
malam, puasa sunah dan berbagai amal shaleh lain yang dapat kau kerjakan dengan
seluruh anggota tubuhmu, tetapi tidak sedikitpun engkau merasa sakit. Kelalaian
telah membunuh hatimu. Orang hidup akan merasa sakit ketika tertusuk jarum,
akan tetapi, sesosok mayat tidak akan merasa sakit meskipun tubuhnya di
potong-potong dengan sebilah pedang. Saat ini hatimu sedang mati, karena itu duduklah
di majelis yang penuh hikmah,sebab, di dalamnya terdapat hembusan karunia dari
surga. Hembusan karunia itu dapat kamu temukan di rumahmu, di perjalananmu.
Jangan tinggalkan majelis hikmah ( majelis ilmu ), andaikata dirimu masih
melakukan banyak maksiat, jangan berkata : Apa manfaatnya aku datang ke majelis
ilmu, sedangkan aku senantiasa bermaksiat dan tidak mampu meninggalkannya.
Akan tetapi, lepaskan busur
panahmu selalu, jika hari ini tidak tepat sasaran, bisa jadi besok tepat
sasaran."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )
( Ibnu 'Atha illah Askandari )
"Jika ingin membersihkan air maka akan kau singkirkan segala hal yang dapat mengotorinya. Anggota tubuhmu ini seperti selokan-selokan yang bermuara ke hati. Karena itu jangan kau alirkan kotoran ke dalam hatimu, seperti pergunjingan, pengadu dombaan, ucapan yang buruk, pandangan yang haram dan lain sebagainya. Hati akan bercahaya dengan memakan makanan halal, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan menjaga mata dari pandangan yang tidak mendatangkan pahala, pandangan yang kurang disukai agama dan pandangan yang haram. Jangan biarkan matamu memandang sesuatu, kecuali jika pandangan itu menambah ilmu dan hikmahmu."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )
“Jika seorang hamba memedulikan penyakit hati seperti penyakit badan, niscaya mereka akan mendapatkan tabib di hadapan mereka. Tetapi, sedikit sekali yang membahas masalah ini, karena mereka telah dikuasai nafsu dan akal.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib
Ali bin Muhammad Al-Habsyi )
“Hati yang bersih siap menerima karunia-karunia Allah swt. Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung karunia Allah swt.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan
Al-Aththas )
“Hati manusia seperti Baitul
Ma’mur. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari
kiamat. Dalam 24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh
seorang malaikat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )
"Ketahuilah bahwa Allah swt
akan memberikan kepada hambanya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan
niatnya. Menurut saya Allah swt niscaya akan mendatangkan segala nikmat-Nya di
muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba-Nya
yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba-Nya yang
lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah swt kecuali dari
hati yang bersih. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan
sebagai hamba Allah swt yang sejati jika belum membersihkan hatinya!“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )
"Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini ( sambil menunjuk ke dada beliau ) seperti rumah, jika dihuni oleh orang yang pandai merawatnya dengan baik, maka akan nampak nyaman dan hidup; namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, maka rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah swt merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin
Muhammad Assegaf )